“Sebelum Bekerja, Pahamilah Ini”

Minggu VI Sesudah Pentakosta

Selasa, 22 Juli 2014

2 Timotius 2: 1 – 6

“…jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.” (ay.1)

  1.  Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.
  2. Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
  3. Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.
  4. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
  5. Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.
  6. Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

 

Mengawali hari ini Paulus menyemangati kita dengan berkata: “…jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.”

Perkataan ini sunggguh menjadi semangat baru ketika kita akan kembali melanjutkan pekerjaan maupun rutinitas kita hari ini. Hanya saja, sebelum kita bekerja hari ini, Paulus hendak menasihatkan:

1)    Ayat 4 : kita dapat menjadi seorang pekerja yang disenangi oleh ‘atasan’ jika kita tidak terlalu menuntut fasilitas ini itu dengan alasan supaya kita dapat bekerja lebih baik. Kenyataan membuktikan bahwa seringkali pemberian fasilitas dan pertambahan upah tidak selalu diiringi dengan peningkatan kinerja oleh pekerja itu sendiri. Sebaliknya jika kita menunjukkan kinerja yang baik, Tuhan, melalui atasan tempat kita bekerja pun akan memperlengkapi kita dengan apa yang kita butuhkan sebelum kita berpikir untuk memintanya.

2)   Ayat 5: bekerjalah menurut aturan yang ada karena pada dasarnya aturan itu dibuat supaya semua orang yang terlibat dalam pekerjaan itu (tidak hanya kita) dapat bekerja dengan lebih efektif dan efisien. Bagi kebanyakan orang, peraturan atau prosedur dapat menjadi sesuatu yang ‘memperlambat’ atau ‘memperumit’ padahal peraturan yang dibuat berdasarkan bimbingan hikmat Roh Kudus adalah untuk memberlakukan keadilan bagi semua pihak yang terlibat dalam pekerjaan itu. Ikutilah aturan itu dengan iman kepada Yesus, maka aturan itu akan membawa kita kepada keberhasilan.

3)   Ayat 6: orang yang pantas menikmati hasil usaha adalah orang yang bekerja keras. Paulus secara tidak langsug menyinggung mentalitas pekerja yang ‘korup’. Korupsi seringkali dikaitkan dengan masalah keuanganpadahal korupsi yang sebenarnya dapat dilihat dari perilaku: “tidak mau bekerja keras namun menuntut hasil yang maksimal”

 

Advertisements

YANG PATUT DIBANGGAKAN

Renungan Pagi – SBU
Minggu XXV Sesudah Pentakosta
Senin, 23 November 2009

Bacaan Alkitab
YEREMIA 9:23-24

23 Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,
24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

Banyak hal yang dapat kita banggakan dalam hidup ini. Misalnya keberhasilan dalam studi. Saking bangganya, orang tua kemudia memasang foto wisuda anaknya di dinding. Hal itu tentu baik karena bisa memotivasi anak-anak yang lain, bahkan keluarga lainnya. Atas perhatiannya di bidang olah raga, seorang teman menggantung sejunlah medali yang diperolehnya dalam beberapa kejuaraan dengan bangga menceritakan event-event olah raga yang diikutinya. Seorang teman yang lain menggantung sejumlah name tag (tanda pengenal) dari hasil keiukutsertaannya di berbagai seminar, sidang dan kegiatan-kegiatan gerejawi lainnya dan dengan bangga menceritakan perannya di tiap kegiatan tersebut. Yang lain ada yang mengumpulkan sejumlah souvenir dari berbagai kota/Negara yang dikunjungi dan dengan bangga menceritakan pengalamannya berkeliling dunia. Semua itu memang sangat membanggakan.
Ternyata Tuhan mempunyai standar kebanggaan yang lain sifatnya. Tidak semata-mata pada sesuatu yang manusiawi dan duniawi tetapi lebih kepada yang bersifat “rohaniah”. Memahami dan mengenal Tuhan, itulah yang patut dibanggakan. Bahwa dialah yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenarannya. Jika untuk memahami dan mengenal seseorang kita harus sering berkomunikasi dan berinteraksi dengannya, maka untuk mengenal Tuhan, diperlukan kemauan yang kuat untuk sedia bergaul akrab dan hangat dengan Tuhan. Diperlukan hati yang terbuka untuk dibaharui oleh Roh Kudus.
Dengan memahami dan mengenal Tuhan, kita tidak akan jatuh dalam kesombongan diri. Kalau kita memang bijaksana, biarlah kebijaksanaan kita mengantar kita kepada Tuhan. Kalau kita orang yang kuat, biarlah kekuatan kita menuntun kita kepada Tuhan. Kalau kita orang yang kaya, biarlah kekayaan kita membuat kita semakin dekat kepada Tuhan. Jika demikian, Tuhan akan bangga karena kita bermegah sesuai kehendakNya.

RENUNGAN MALAM (SBU)

MENJADI KENAMAAN DAN KEPUJIAN DI ANTARA BANGSA-BANGSA DI BUMI
Minggu XXIV Sesudah Pentakosta
Rabu, 18 November 2009

Bacaan Alkitab
ZEFANYA 3:16-20
16 Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.
17 TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,
18 seperti pada hari pertemuan raya.” “Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.
19 Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi.
20 Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN.


Siapakah yang tidak mau menjadi kenamaan dan kepujian di antara bangsa-bangsa? Bukan raja atau ratu yang membuat itu, tetapi Tuhan sendiri. Prakarsa ini muncul dari Tuhan pencipta alam semesta. Yehuda (Israel) harus berterima kasih atas ketetapan Tuhan itu.

Dalam kasiNya, Tuhan Allah akan memberi kemenangan bagi Israel, bersukacita atas umatNya itu dan menginginkan Israel memperbaharui diri. Mereka harus mengembangkan diri seturut kehendak Tuhan. Bangsa-bangsa sekitar Yehuda (Israel) boleh saja memperngaruhi mereka seperti bangsa Filistin, Moab, Etiopia dan Asyera (pasal 2). Namun pengaruh bangsa-bangsa tidak dapat menandingi kasih Tuhan terhadap Yehuda (DS Rat) asalkan mereka mau bertobat (Pasal 2:1-3). Dengan mencari Tuhan mereka akan selamat dan terhindar dari pengaruh asing. Sekarang mereka dituntut hidup kudus, menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan. Memang dunia ini milik Tuhan, tetapi manusia yang percaya tidak bisa berlaku sewenang-wenang. Sebab setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Yahudi (Israel) harus ingat bahwa hidup mereka tidak berhenti di dunia (bumi) ini. Ada kekekalan dan itu yang Tuhan inginkan. Hidup sekarang sementara, tetapi hidup yang akan datang sarat dengan tuntutan-tuntutan kekekalan yaitu mencapai hidup kekal dengan melakukan perintah dan hukum Tuhan. Dunia, Termasukorang-orang yang percaya harus bersyukur atas kebaikan Tuhan. Tuhan begitu panjang sabar dan kemurahanNya tak terbatas, mau memelihara, memulihkan umatNya dan membuat umatNya kepujian dan ternama. Yang harus diberlakukan umat ialah bertekad dengan sangat besar mewujudkan hidup setia kepada perintah dan firmanNya

RENUNGAN PAGI (SBU)

MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
RABU, 18 NOVEMBER 2009

Bacaan Alkitab
ZEFANYA 3:9-15
9 “Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu.
10 Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku.
11 Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus.
12 Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN,
13 yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.”
14 Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi
.

Kepada siapakah kita dapat berlindung? Kepada siapa dapat berharap dan luput? Kenyataan memperlihatkan bahwa kita sering bergantung kepada diri sendiri. Menganggap diri sendiri mampu mengatasi segala persoalan. Nas hari ini mencatat beberapa ciri kehidupan orang-orang Israel yang masih tersisa, mereka yang pulang dari pembuangan. Mereka berusaha untuk tidak melakukan kelaliman, tidak berbicara bohong, tidak menipu, tidak congkak dan tidak meninggikan diri. Inilah sifat-sifat yang harus kita kejar. Ramah, baik hati, jujur dan adil berani mengatakan yang benar, rendah hati, tidak merendahkan orang lain.
Nabi Zefanya seolah sedang mengajarkan pendidikan moral bagi bangsanya. Justru untuk mendukung apa yang disebut janji keselamatan yang Tuhan adakan terhadap umatNya. Mengingat hatu Tuhan atau “Yom YHWH” sudah dekat (1:14) yaitu suatu hari yang penuh dengan murka Tuhan, hari yang pahit, penuh kesusahan, kesulitan, kegelapan, bahkan kegemasan, itulah sebabnya umat Tuhan sudah harus cepat-cepat mengambil sikap. Keberhasilan umat Tuhan di saat menanti-nanti kedatangan hari Tuhan ialah apabila mereka mampu memperlengkapi diri dengan sejumlah sumber daya keidupan yang tepat dan berkualitas. Bagaimana mereka dengan jeli tetapi cerdas mengantisipasi kedatangan hari Tuhan ini. Memaknai segenap tubuh dan jiwa secara baik.
Tuhan akan memberikan bibir lain yang bersih agar dengan bibir yang bersih mampu menyebut nama Tuhan secara bersih pula, terhindar dari kemunafikan dan kecongkakan. Dengan demikian menjadi alat Tuhan untuk menyalurkan berkat kepada sesama. Mari kita lawan segala sifat buruk karena pengaruh dunia. Carilah Tuhan sambil membebaskan diri dari kejahatan, bergantung kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. kekuatan dan perlindungan Tuhanlah yang terbaik bagi kita.

Renungan Malam (SBU)

Minggu XXIV Sesudah Pentakosta
Selasa, 17 November 2009

Bacaan Alkitab
AMOS 9:14-15
14 Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya.
15 Maka Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka,” firman TUHAN, Allahmu.

Pesan apa yang kita tangkap dari ayat-ayat ini? Ketika Tuhan berkenan membahagiakan umatNya, maka kebahagiaan itu akan lestari. Mereka akan berdiam kembali di tanah tumpah darah bahkan tidak akan pernah beranjak lagi dari sana. Begitu ketetapan hati Tuhan semesta alam. Pemulihan yang sudah dialami umat Tuhan bukan semata-mata karena mereka dilepaskan dari cengkeraman dosa dan kejahatan, tetapi agar mereka kembali idup berpaut kepada Tuhan. Merapatkan diri lebih dekat lagi kepada Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan tuntut daripada mereka. Bukankah janji Tuhan membuat mereka bersemangat kembali? Mereka bersemangat membangun kota-kota mereka sendiri dengan kekuatan yang ada, meluruskan jalan-jalan, melicinkan dan membangunnya dengan semarak? Dengan rasa syukur mereka akan menikmati hasil jerih payah sendiri hasil tanaman mereka. Mereka patut bersyukur sebab Tuhan melibatkan mereka dalam pemulihanNya. Merekapun kelak harus melibatkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Tuhan memakai upaya manusia untuk membangun kembali kepercayaan diri, supaya dengan bangga mampu meneruskan kehidupan di masa depan. Bangsa patut merasa syukur atas segala kebaikan dan kasih setia Tuhan. Saat mereka mendapat kepercayaan membangun diri, saatnya untuk berlaku benar dan rendah hati. Tak boleh sombong dan tinggi hati karena kesempatan itu Tuhan yang berikan. Justru dengan rendah hati mereka harus mau menerima tawaran kasih Tuhan dengan menghargai setiap pemberianNya. Apalah manusia jika tidak bergantung kepada Tuhan?
Mari bertindak menurut kehendak Tuhan, karena peranan kita bukan saja membangun diri secara fisik dan mental akan tetapi lebih daripada itu ialah membangun kepercayaan supaya lebih teguh dan mantap

RENUNGAN PAGI (SBU)

Minggu XXIV Sesudah Pentakosta
Selasa, 17 November 2009

BAHAGIA KARENA DISELAMATKAN

Bacaan Alkitab
AMOS 9:11-13
11 “Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,
12 supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku,” demikianlah firman TUHAN yang melakukan hal ini.
13 “Sesungguhnya, waktu akan datang,” demikianlah firman TUHAN, “bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran
.

Mengembalikan keadaan lama kepada yang sama sekali baru, bukan saja sulit dan memakan waktu, tetapi justru untuk menyelamatkan keluarga Daud yang terpecah-pecah (bandingkan 1Raja-raja 12). Rupanya itu yang dimaksudkan Nabi Amos dengan “Pondok Daud”.
Syukur bawa Tuhan sebagai penguasa masih berkenan akan kesatuan umatNya. Meskipun nenek moyang mereka telah tidak taat dan melanggar perintah Tuhan sehingga harus dibinasakan. Namun oleh prakarsa Tuhan sendiri melalui Nabi Amos diberitakan janji-janji kebahagiaan. Isi janji kebahagiaan tidak lain adalah keselamatan bagi matNya yang bukan saja tercerai berai oleh mereka sendiri (Israel Utara dan Israel Selatan) tetapi juga karena ditawan ke pembuangan. Bukankan pengalaman seperti ini yang masih harus dialami oleh Israel? Dengan perkataan lain derita kerajaan yang terpecah akan dipulihkan dan memasuki suasana restorasi baru. Upaya mempersatukan tidak datang dari pihak manusia, tetapi dari pihak Tuhan. Mereka harus membiarkan Tuhan campur tangan dalam setiap masalah termasuk masalah kesatuan yang sangat didambakan. Mereka harus bersyukur atas kebajikan Tuhan yang mau menyelamatkan mereka dan menjadikan seantero keluarga Daud bersatu di bawah kuasa Tuhan.
Tuhan begitu sayang kepada keluarga Daud dan tidak meninggalkan begitu saja. Ia juga mau membebaskan umat dari jeratan konflik dan persoalan. Ia berkenan menolong, bahkan membaharui segenap bangsa. Mereka yang diselamatkan harus bersyukur, sebab Tuhan datang pada waktu yang tepat, tempat yang tepat, bahkan dengan penuh kepedulian. Semua tindakan Tuhan ini harus dimaknai secara positif. Perpecahan bangsa diselesaikan, kesalahan diampuni dan kecerobohan diperbaikiNya. itulah karya Tuhan turun temurun untuk setiap orang percaya, hendaknya hidup bahagia.